Sekelumit Permasalahan Sampah

Aktivitas manusia setiap hari, setiap jam, setiap detik dalam segala aspek kehidupan selalu berpotensi memberikan jejak berupa materi/barang yang tidak digunakan lagi, yang kita kenal dengan kata “sampah”. Sampah yang kita hasilkan memiliki jenis yang beraneka ragam, diantaranya sampah sisa makanan, sampah plastik, karet, kertas, kardus, besi/logam, kaca, hingga berbagai jenis sampah yang berbahaya.

Bergantung pada tindakan yang diambil oleh manusia, sampah-sampah ini memiliki dua kemungkinan ‘nasib’, yakni  diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat atau dibiarkan menumpuk begitu saja. Sebagai contoh, sampah-sampah organik seperti sampah dapur, bisa dimanfaatkan menjadi bahan kompos. Sampah-sampah lain yang non organik pun bisa diolah menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi serta berbagai produk lainnya. Namun, apa yang kira-kira akan terjadi jika sampah-sampah yang kita hasilkan tidak dimanfaatkan dan langsung diangkut ke TPA?

Paul, 2018 – Dalam proyek landfill mining

Nasib sampah di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir)

TPA bagi mayoritas masyarakat masih bermakna Tempat Pembuangan Akhir, meskipun dewasa ini, tempat tersebut haruslah berubah menjadi Tempat Pemrosesan Akhir. Sampah yang dibuang setiap harinya ke TPA ditumpuk begitu saja dan pada suatu waktu akan ditutup jika telah mencapai ketinggian tertentu. Hal yang patut menjadi perhatian adalah bahwa jumlah sampah yang dihasilkan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sehingga tumpukan atau timbunan sampah di TPA akan semakin bertambah. Bukan tidak mungkin suatu saat TPA akan menjadi penuh dan dibutuhkan lahan lain untuk dijadikan TPA baru. Sebagai contoh, kapasitas TPA sampah Cikundul, Kota Sukabumi, yang menampung 171 ton sampah/hari diprediksi akan penuh 1,5 tahun lagi. Kasus lain di TPA Jabon, di Desa Tambak Kalisogo, Jabon, Sidoarjo, yang menampung sampah kurang lebih 500 ton/hari, menghadapi permasalahan lahan yang hampir penuh. Sepuluh zona telah dinyatakan tidak aktif, atau sudah tidak bisa menampung sampah.

Ada sebuah fenomena ‘menarik’ yang ditemukan di salah satu TPA di kawasan Bekasi. TPA yang menerima sampah hingga 7000 ton/hari ini masih beroperasi hingga saat ini, namun dalam kondisi yang hampir penuh dan beberapa zona timbunan sampah telah ditutup. Sebuah survei dilakukan di zona tertua yang berisi timbunan yang telah ditutup sekitar 10 tahun. Kegiatan penimbunan sampah dilakukan terakhir kali di zona ini pada tahun 2006 silam. Dari hasil survei, ditemukan bahwa sampah plastik yang ada di bawah maupun puncak timbunan masih terlihat utuh, tak berubah sedikit pun. Hal ini menunjukkan bahwa plastik tersebut tidak terurai dari semenjak awal dibuang, yakni dari mulai zona timbunan ini beroperasi, sampai 10 tahun setelah zona ini ditutup. Sampah plastik ini pun berkontribusi cukup banyak dalam komposisi timbunan sampah tersebut. Sampah-sampah lain seperti logam, kain, dan karet yang ditemukan di timbunan TPA tersebut juga tampak masih memiliki bentuk fisik yang utuh, berbeda dengan sampah sisa makanan yang sudah tidak nampak karena telah berubah bentuk menjadi tanah dan pasir.

Kenyatan tentang sampah-sampah ini, terutama plastik, menjadi tantangan tersendiri bagi manusia. Kita tahu bahwa mereka sangat sulit terurai, namun penggunaannya masih sangat populer. Sayangnya, kepopuleran ini tidak sejalan dengan kemampuan pengelolaan yang baik. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) menyatakan bahwa konsumsi kantong plastik mencapai 240-300 juta lembar per tahun, atau 1.900-2.400 ton per tahun. Selain itu, Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan timbulan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Tidak adanya pemanfaatan dari jumlah yang besar ini akan menimbulkan masalah besar ketika sampah-sampah tersebut telah berada di antara timbunan sampah lainnya di TPA dan hanya bisa ditumpuk begitu saja. Sampai kapankah hal ini akan terjadi? Mungkinkah akan tiba saatnya di mana tidak ada lahan lagi yang dapat digunakan untuk menimbun sampah-sampah yang kita hasilkan?

Paul, 2018 – Dalam proyek landfill mining

Sampah persoalan bersama

Manusia telah dipilih oleh Allah sebagai khalifah, yakni pemimpin untuk mengelola alam dan segala isinya agar selaras, seimbang dan adil sesuai kehendak Sang Pencipta. Fungsi manusia sebagai khalifah telah dijelaskan, salah satunya di dalam surah Al-Baqarah ayat 30. Banyak peran yang harus kita maknai sebagai pekerjaan seorang khalifah di muka bumi. Seringkali hal-hal kecil yang ada di sekitar kita tidak disadari sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai khalifah, salah satunya adalah kebersihan lingkungan. Bencana-bencana yang muncul akibat tidak terjaganya kebersihan lingkungan menjadi bukti telah lalai nya kita dalam mengemban tugas dariNya. Bencana banjir di berbagai daerah yang hadir setiap tahunnya, meluapnya sungai Bengawan Solo akibat tersumbat sampah, hingga semakin buruknya kondisi sungai Citarum akibat permasalahan sampah yang tidak kunjung terselesaikan merupakan beberapa contoh akibat dari perbuatan kita sendiri.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rûm [30]: 41)

Dengan berbagai permasalahan sampah yang ada di sekitar kita, sudah sepatutnya kita melakukan introspeksi diri dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Di saat teknologi pemrosesan berbagai jenis sampah maupun fasilitas pemanfaatan sampah masih minim, usaha sederhana yang dapat kita lakukan adalah mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai gerakan pengurangan penggunaan plastik telah dilakukan, di antaranya gerakan pengurangan penggunaan plastik dari Urban Greenpeace Indonesia, munculnya berbagai produk pengganti plastik seperti sedotan berbahan stainless steel dan produk lainnya yang dapat digunakan berulang, hingga kebijakan kantong plastik berbayar oleh pemerintah. Partisipasi masyarakat dalam berbagai gerakan yang mulai bermunculan di tengah-tengah kita sangat diharapkan menjadi roda perubahan untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di sekitar kita.

Selain upaya mengurangi penggunaan plastik, berbagai program yang menggaungkan pemanfaatan sampah pun telah bermunculan, di antaranya organisasi Greeneration Indonesia, Waste4Change, dan termasuk program dari Pemerintah Kota Bandung bertajuk “Kangpisman” yakni Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan sampah sebelum dibuang. Namun, banyak masyarakat yang belum mengetahui dan ikut serta pada setiap upaya memperbaiki lingkungan. Padahal, semua program tersebut tidak akan bermakna tanpa partisipasi dan dukungan dari masyarakat.

(Sumber: www.cnnindonesia.com/nasional/20160620133707-20-139470/bengawan-solo-meluap-akibat-drainase-terhambat-sampah)

 

(Sumber: www.elshinta.com/news/137482/2018/02/24/2025-indonesia-bebas-dari-sampah-plastik-di-laut)

 

(Sumber: http://www.mongabay.co.id/2018/10/29/daur-ulang-sampah-tidak-cukup-melindungi-laut-dari-pencemaran-plastik)

Mari kita mulai perubahan itu dari diri sendiri; dimulai dengan niat dan pemahaman yang benar bahwa bumi ini bukanlah milik manusia, melainkan titipan dari Allah untuk kita kelola dengan benar.

 “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-A‘râf [7]: 56)

Kemudian perjuangkanlah, karena kebaikan akan berdampak apabila diperjuangkan, diusahakan bersama-sama dalam indahnya ukhuwah dan upaya untuk saling mengingatkan. Insya Allah usaha kita dalam menjaga lingkungan akan memberikan banyak manfaat bagi makhluk Allah SWT lainnya, serta untuk anak cucu kita di masa mendatang.

Wallahu A’lam Bishawab.

 

Oleh: Ristia Mareta

Penulis adalah alumni program sarjana Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.