Mengelola Limbah Medis Tanpa Risiko Kesehatan dan Lingkungan, Mungkinkah?

Pernahkah terpikirkan oleh kita ke mana perginya limbah berbahaya yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan (limbah medis)? Atau mungkin saja saat ini kesadaran masyarakat akan bahaya dari limbah medis sendiri masih cukup rendah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya apabila timbulan limbah sisa obat-obatan atau senyawa kimia berbahaya, sisa-sisa peralatan medis atau mungkin limbah dari bagian jaringan/organ tubuh sisa operasi yang membawa agen penyakit tidak tertangani dengan baik dan berada di sekitar kita. Tentunya kita sangat tidak menginginkan hal demikian terjadi. Terlebih lagi, seiring laju pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang cukup pesat, fasilitas-fasilitas kesehatan ini akan semakin dibutuhkan dan tersebar di sekitar kita khususnya pada kawasan kerja dan pemukiman.

Berdasarkan data dari BPS, pada tahun 2013 tercatat ada sebanyak 2.228 Rumah Sakit serta 9.655 Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesiadengan 8.132 ton limbah dihasilkan setiap tahunnya. Berdasarkan data Ditjen PP & PL tahun 2003-2012, timbulan limbah yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan (limbah medis) memiliki komposisi sebagai berikut: 80% merupakan limbah domestik, 15% limbah infeksius & patogen, 3% limbah kimia, dan 1% limbah benda tajam (jarum suntik, pecahan kaca, dsb). Limbah domestik dikategorikan ke dalam general waste yang biasa dihasilkan dan dapat diolah sebagaimana limbah rumah tangga pada umumnya, sedangkan sisanya bisa saja tergolong ke dalam kategori limbah B3 (Bahan berbahaya & beracun) atau hazardous waste yang memerlukan penanganan khusus karena tidak dapat ditangani dengan metode yang sama layaknya limbah kategori domestik (umum).

Timbulan Limbah Medis (Sumber: wasteadvantagemag.com)

Perlu diperhatikan bahwa penanganan limbah yang kurang tepat dapat menimbulkan masalah baru, terlebih lagi terhadap limbah yang tergolong ke dalam kategori limbah B3. Sebagai contoh, berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam penanganan limbah B3 dapat digunakan metode insinerasi (pembakaran langsung) dengan catatan suhu pembakaran yang digunakan haruslah berada di atas 800oC. Dampak yang mungkin timbul apabila kriteria tersebut tidak tercapai adalah terbentuknya zat-zat berbahaya seperti dioxin dan furan (WHO, 2000) dari hasil pembakaran yang justru dapat lebih berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Seperti yang diungkapkan Faye V. Ferrer dari Health Care Without Harm Asia pada acara bertajuk “Medical Waste Handling Without Harm” tanggal 7 Maret 2018 lalu:

“What good does it do to treat  people’s illness only to send them back to the conditions that made them sick.”

(“Apa gunanya menyembuhkan penyakit-penyakit yang diderita orang kalau nantinya mereka akan kembali kepada kondisi yang membuat mereka sakit”)

Apabila berkaca pada pengelolaan limbah medis yang ada di Indonesia, terdapat banyak faktor yang perlu dibenahi. Saat ini hanya sebanyak 49% dari total rumah sakit di Indonesia yang memiliki fasilitas pengolahan limbah medis, yaitu insinerator, yang sebagian besar pun masih  beroperasi di bawah 800oC. Kemudian juga berdasarkan survei yang dilakukan BaliFokus pada 11 rumah sakit di Jakarta yang memiliki insinerator, hanya sebanyak 7 rumah sakit saja yang masih mengoperasikan insineratornya, itu pun lokasinya sangat dekat dengan pemukiman. Ditambah lagi Indonesia belum memiliki laboratorium uji polutan, khususnya dioxin, serta perusahaan pengolah limbah B3 yang memadai. Ada teknologi pengolahan limbah medis yang berkembang saat ini, yaitu teknologi autoklaf dengan memanfaatkan suhu dan tekanan tinggi yang lebih ramah lingkungan. Hasil dari proses autoklaf adalah limbah yang telah terbebas dari sifat infeksius & patogen sehingga dapat dimanfaatkan kembali. Sayangnya teknologi tersebut belum banyak berkembang dalam pengelolaan limbah medis di Indonesia dan juga belum didukung dengan standar peraturan yang jelas.

Lantas hal apa yang dapat dilakukan saat ini? Tentunya ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh pengelola fasilitas kesehatan serta lembaga berkenaan dengan pengelolaan limbah medis di samping pengolahan timbulan limbah di ‘ujung pipa’ (end of pipe). Hal pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesadaran dari pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan limbah medis dengan sejumlah pelatihan dan pembaruan pengetahuan. Kesadaran ini sangat penting karena berjalan atau tidaknya sistem pengelolaan yang dibuat sangat ditentukan oleh kesadaran dari orang-orang yang menjalankannya. Selanjutnya diperlukan adanya segregasi atau pemilahan limbah yang baik dari hulu ke hilir. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, hanya sebesar 15-20% limbah medis yang tergolong ke dalam kategori limbah B3, sedangkan 80% lainnya merupakan general waste yang cenderung tidak berbahaya dan dapat dimanfaatkan kembali baik dengan atau tanpa proses. Pemilahan juga berfungsi untuk mencegah kontaminasi dari limbah medis kategori B3 kepada limbah lainnya saat terjadi kontak. Kemudian, perlu juga adanya substitusi atau minimasi penggunaan senyawa berbahaya seperti raksa (Hg) yang masih banyak digunakan dalam dunia kesehatan di Indonesia. Hal yang terakhir adalah senantiasa menjaga kebersihan, tidak hanya di fasilitas kesehatan saja melainkan di mana pun kita berada.

Pemilahan Limbah Medis (Sumber: medicaldialogues.in)

Islam mengajarkan kita akan betapa pentingnya kebersihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa kebersihan ini merupakan sebagian dari iman sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai kebersihan.

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Itu baik, Dia menyukai kebaikan. Allah itu bersih, Dia menyukai kebersihan. Allah itu mulia, Dia menyukai kemuliaan. Allah itu dermawan ia menyukai kedermawanan maka bersihkanlah olehmu tempat-tempatmu.” (H.R. at –Tirmizi: 2723)

Perlu kita sadari juga bahwa baik kesehatan maupun lingkungan sekitar kita merupakan amanah yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjalankan kehidupan.

Sungguh berat pertanggungjawaban yang akan kita hadapi nantinya apabila amanah tersebut tidak ditunaikan sebagaimana yang telah ditetapkan. Alangkah baiknya apabila kita mampu mengambil langkah dan pemikiran lebih jauh dalam menyelesaikan suatu masalah khususnya dalam pengelolaan limbah medis ini. Jangan sampai langkah penyelesaian yang kita ambil hanya sebatas menyelesaikan masalah jangka pendek dengan alasan mencari penyelesaian yang paling mudah dilakukan padahal Allah telah membekali kita dengan begitu banyak potensi. Dengan modal ini, bukan tidak mungkin penanganan limbah medis ini dilakukan tanpa menimbulkan risiko lebih lanjut bagi kesehatan maupun lingkungan.

 

Oleh: Mohamad Candra Purnama Hadi

Penulis adalah alumni program sarjana Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.