Pakaian Terakhir

(Sumber: pinterest.com)

Kain putih bersih singgah tanpa permisi

Tak bisa dihalangi walau dengan pagar besi

 

Kafan dalam bahasa Arab artinya membungkus. Di dalam syariat islam, kain kafan adalah sebutan bagi kain pembungkus jenazah. Siapa yang tidak tahu kain ini? Kain yang mengingatkan manusia kepada kematian, kain yang mengingatkan manusia kepada tempat terakhirmya.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. (QS. Al-‘Ankabût [29]: 57)
(Sumber: pixabay.com)

Dalam hadits yang disepakati kesahihannya, disebutkan bahwa kain kafan berasal dari kata kursuf yang maksudnya adalah kapas.

Aisyah Radliyallaahu‘anha berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga pakaian putih Suhuliyyah (jenis kain berasal dari suatu tempat di Yaman) dari kapas, tanpa ada gamis dan surban padanya. Muttafaq Alaihi.

Pada bab fikih pengurusan jenazah di dalam kitab Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, dijelaskan bahwa kain kafan yang paling afdal adalah kain yang terbuat dari bahan kapas. Penjelasan ini menunjukkan bahwa tidak wajib kain kafan terbuat dari bahan kapas, namun yang paling baik adalah jika kita bisa mencontoh Rasulullah Saw. Tentunya hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai hikmah-hikmah yang bisa diambil dari penggunaan kapas sebagai bahan pakaian kematian kita.

Kapas merupakan serat yang berumur cukup tua. Para arkeolog memperkirakan bahwa kapas sudah mulai dipakai sebagai kain sejak 8000 tahun yang lalu. Kapas yang dijadikan bahan kain kafan berasal dari serat-serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis pohon kapas (Gossypium spp.). Ada beberapa kelebihan yang dimiliki serat tumbuhan ini dibandingkan dengan serat yang berasal dari protein ataupun mineral. Salah satunya adalah hanya sekitar 10% saja dari berat kotor (bruto) produk yang hilang selama pemrosesan. Selain itu, apabila lemakproteinmalam (lilin), dan residu lain disingkirkan, yang tersisa adalah polimer selulosa murni dan alami. Karena inilah serat kapas bersifat biodegradable sehingga ramah lingkungan.

Karakter yang dimiliki oleh serat kapas ini tentunya berbeda dengan serat buatan atau disebut juga serat sintetis. Serat-serat sintetis, seperti Nilon, Polyester, Acrylic, Rayon (sutra buatan), dll, hampir seluruhnya dibuat dengan menggunakan produk petrokimia, dan dipaksa melalui bahan pembentuk serat yang disebut spinnerets. Oleh karena itu semua filamen dibuat secara artifisial. Dibandingkan serat kapas, serat sintetis memiliki kekuatan dan daya tahan yang lebih baik. Selain itu, mereka juga lebih murah dibandingkan serat kapas (alami). Akan tetapi,  salah satu kelemahan utama dari serat sintetis adalah mereka lebih tidak mudah terurai, sehingga kurang ramah lingkungan dibandingkan kapas.

Kembali lagi pada hadits Muttafaq Alaihi di atas, Rasulullah menyebutkan kata “kursuf”, yang berarti kapas. Berdasarkan hadits-hadits lainnya, apabila sampai tidak mendapati kain kafan yang mencukupi untuk menutupi jenazah, maka ia dapat ditutupi dengan tumbuh-tumbuhan sejenis idzkhar. Jika barang tersebut juga tidak ada, maka dapat diganti dengan memakai apa saja dari tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Secara konsep, semua bahan-bahan pembungkus jenazah ini adalah material-material yang mudah terurai. Penggunaan kain kafan yang biodegradable menjadikan manusia kembali (mati) tanpa membawa apapun, termasuk kain kafan yang dipakainya

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”.

(QS. Al-Baqarah [2]: 156)

Sehubungan dengan serat yang digunakan untuk kain kafan, dosen serat di Politeknik STT Tekstil Bandung, Asril Senoaji Soekoco, mengatakan bahwa, “Hal ini menarik untuk didiskusikan kembali karena menjadi pertanyaan besar yang berulang apakah kain kafan yang dibeli masyarakat di pasaran merupakan kain kapas asli atau malah ada campuran serat lainnya. Bisa saja kain-kain di pasaran tersebut mengandung campuran rayon viskos, misalnya, yang kebetulan harganya lebih murah dari material kapas atau malah campuran yang bukan dari serat alam, seperti polyester.”

Ketika disinggung boleh tidaknya kain kafan dengan serat/bahan dan anyaman lainnya, dosen pertenunan Politeknik STT Tekstil Bandung, Abdurrohman, menjawab, “Boleh tidaknya bahan kain kafan diganti dengan selain kapas bukanlah ranah ilmu pengetahuan melainkan syariat. Hanya saja, dari segi keilmuan tekstil, kain kafan adalah kain yang berasal dari kapas dan dianyam dengan anyaman polos*.” Bapak Asril Senoaji Soekoco kemudian menanggapi bahwa, “Pada hakikatnya, semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah SWT yang akan diminta pertanggunjawabannya, tak terkecuali pakaian akhir kita. Apabila mengikuti contoh terbaik yang telah Allah berikan untuk kita, yaitu Rasulullah, maka dalam kematian pun kita turut menjaga bumi dengan memakai sesuatu yang biodegradable.”

Maha Kuasa Allah Swt., yang telah mengatur sedemikian rapi urusan manusia dari mulai manusia datang hingga pergi meninggalkan dunia. Hanya dari urusan seputar kain kafan pun, banyak sekali hikmah yang bisa kita dapatkan. Semua manusia sama di mata Allah; hal yang membedakan hanyalah ketakwaan. Apalah artinya hidup bergelimang harta dan berstatus tinggi di mata manusia, jika itu tidak dalam rangka takwa. Pada akhirnya, kita akan berpulang dengan sederhana, sesederhana pakaian akhir kita yang nantinya pun akan lenyap oleh masa.

Wallahu A’lam Bishawab

 

Oleh: Nadia Yunisa S

Penulis adalah mahasiswa Politeknik STT Tekstil Bandung

 


*informasi tambahan

Bila dilihat dari ilmu tekstil, kain kafan memakai anyaman polos.

Gambar anyaman polos. Sumber gambar : fabric technologist

Anyaman polos merupakan anyaman paling sederhana dibandingkan anyaman-anyaman lain, mempunyai raport yang paling kecil dari semua jenis anyaman. Kombinasi pakan dan benang lusi paling sederhana, yaitu : 1-naik dan 1-turun. Maksudnya, ulangan raport ke arah horizontal atau disebut arah pakan diulangi sesudah 1 helai pakan, lalu ke arah vertikal atau disebut arah lusi diulangi sesudah 1 helai lusi. Ini yang menyebabkan jumlah anyaman silangan pada anyaman polos ini lebih banyak dari jenis anyaman yang lainnya. Anyaman polos mengakibatkan kain menjadi paling kuat dari pada anyaman lainnya karena letak benang yang lebih rapat yang membuatnya tak mudah berubah tempat. Pada umumnya anyaman polos ini memiliki penutupan kain (fabric cover) sekitar 25-75%.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.