Islam dan Prinsip Pembangunan Berkelanjutan

Laju populasi, kebutuhan, serta kegiatan manusia terus meningkat dari waktu ke waktu. Di sisi lain, sumber daya serta daya dukung dan daya tampung yang ada di lingkungan cenderung tetap atau pun mengalami penurunan akibat adanya pembangunan. Hal tersebut dapat berujung pada kerusakan lingkungan hidup yang tentunya akan sangat berdampak bagi manusia serta makhluk hidup lain yang tinggal di dalamnya. Tanpa adanya pengelolaan pembangunan yang baik, dimungkinkan dalam waktu dekat bumi ini sudah tidak mampu lagi mewadahi kebutuhan serta kegiatan manusia. Isu-isu pembangunan lainnya juga muncul dari aspek sosial dan ekonomi yang berada pada lingkup antarmanusia.

Dalam rangka menyelamatkan bumi dari kerusakan dan untuk kemaslahatan manusia, tepatnya pada 21 Oktober 2015, organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyepakati rencana aksi global berupa 17 (tujuh belas) poin capaian ambisius pada tahun 2030 yang dinamakan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutkan (TPB). TPB ini merupakan kelanjutan dari program PBB sebelumnya yang dirasa cukup berhasil yaitu Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium (TPM). Berbeda dengan rencana aksi sebelumnya, TPB ini lebih berorientasi pada pengentasan masalah secara utuh serta mengedepankan kerjasama antarpihak dalam mencapai tujuan. TPB dibangun di atas 3 (tiga) pilar yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mencakup berbagai isu pembangunan di antaranya kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, kesenjangan, perubahan iklim, ekosistem, dan produksi-konsumsi.

Gambar 1. 17 Butir Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)

Sebagai intelektual muslim tentunya kita harus dapat menyikapipembangunan berkelanjutan ini dalam kaca mata yang tepat tanpa hanya terpaku pada rencana aksi global yang diterbitkan PBB. Pada abad ke-7 (tujuh), ajaran dan nilai-nilai islam diturunkan sebagai pedoman kehidupan seluruh manusia dalam berbagai aspek, termasuk di dalamnya kaidah-kaidah dalam mengelola bumi juga menyelesaikan urusan antarmanusia. Sebagaimana kita tahu, dalam menjalankan tugasnya yaitu beribadah semata-mata karena Allah Swt., manusia diberikan fungsi sebagai khalifah di muka bumi.

Allah Swt. berfirman:

Artinya:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al-Baqarah [2]: 30).
Kata khalifah memang secara bahasa memiliki arti luas yaitu “pemimpin”, namun dalam konteks ayat tersebut memiliki makna yang spesifik yaitu sebagai pemimpin, pengelola, dan pemakmur bumi beserta urusan yang ada di dalamnya dengan berpedoman pada Al-Quran dan juga Sunnah. Tanpa perlu diragukan lagi, Al-Quran merupakan kebenaran hakiki yang datang dari Allah Swt. Pun tidak memerlukan pembuktian kebenaran melalui penyandingan dengan konsep-konsep pengetahuan saat ini yang justru memiliki sisi keraguan dan ketidakpastian. Seorang khalifah tentunya sangat paham akan amanah yang diemban serta pertanggungjawaban yang akan dihadapinya nanti sehingga dia akan sangat berhati-hati dan mengembalikan segala sesuatunya kepada wahyu.

Melihat dari sejarah peradaban Islam yang berlandaskan pada Al-Quran dan Sunnah, keseimbangan antar ketiga pilar, yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan sudah sangat dikedepankan. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan juga telah ada dalam hikmah pelaksanaan syariat-syariat yang ada dalam islam.

Sebagai contoh, ibadah mal (harta) berupa zakat, infak, serta sedekah memiliki peranan besar dalam pilar sosial dan ekonomi. Pelaksanaan syariat ini secara benar merupakan solusi dari berbagai isu pembangunan seperti kemiskinan, kelaparan, dan kesenjangan. Pandangan bahwa harta bukanlah merupakan segalanya melainkan suatu media dalam mencapai ridha-Nya memberikan hikmah lain yang dapat menyelamatkan kehidupan sosial dan ekonomi. Prinsip-prinsip membantu sesama, terlebih lagi yang sedang membutuhkan, sudah tentu ada dalam ajaran dan nilai-nilai islam.

Berbicara soal pendidikan, islam memiliki sistem pendidikan yang baik dan sangat terstruktur pada berbagai tingkatan dimulai dari diri, keluarga, dan masyarakat. Sistem pendidikan yang berlandaskan wahyu selain memperkaya ilmu pengetahuan juga disempurnakan dengan etika-etika islam yang mengejawantah menjadi akhlakul karimah (ahlak yang baik) untuk diterapkan dalam kehidupan sosial. Masyarakat yang berpendidikan serta ber-akhlakul karimah sudah tentu akan dapat menghasilkan peradaban yang tangguh, berkeadilan, serta kaya akan inovasi. Peradaban yang dimaksud juga mencakup pembangunan fisik (infrastruktur, permukiman, perkotaan), pertumbuhan ekonomi, penyediaan energi, dan lain sebagainya.

Kemudian, kaidah-kaidah pengelolaan lingkungan hidup secara luas hingga hal mendetail yaitu kesehatan diri juga tidak luput dari pembahasan. Saling mengasihi antarsesama makhluk, bagaimana cara bersikap terhadap alam, serta bagaimana berperilaku tidak berlebih-lebihan dalam segala hal sudah tentu ada dalam ajaran dan nilai-nilai islam. Segala pelaksanaan dari ajaran dan nilai-nilai islam ini diikat dan diperkuat dengan dilandasi ketundukan semata-mata untuk mencapai ridha-Nya, di mana tidak ada lagi landasan yang lebih kuat dari hal tersebut.

Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang terkandung di dalam ajaran Islam hanyalah sebagian kecil dari luasnya nilai-nilai Islam. Jadi, dapat dibayangkan apabila ajaran dan nilai-nilai islam ini dilaksanakan secara paripurna sejak dahulu, maka isu permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan sudah barang tentu dapat dientaskan sejak lama. Dengan melaksanakan keseluruhan nilai-nilai inilah manusia menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Moh. Candra

Penulis adalah alumni Teknik Lingkungan ITB

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.