Mengenal Green Activism: Wujud Jihad Bernapaskan Lingkungan

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rûm [30]: 41)

Tidak dipungkiri bahwa dalam kurun waktu kurang lebih 3 dekade terakhir, permasalahan lingkungan telah menjadi salah satu isu global yang hangat diperbincangkan. Bahkan saat ini semakin gencar, mengingat semakin kompleksnya permasalahan lingkungan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Salah satu contoh permasalahan lingkungan global yang semakin marak diperbincangkan di era milenial yakni terkait sampah plastik. Berdasarkan fakta data yang tercantum di plasticoceans.org, setidaknya lebih dari 300 juta ton plastik diproduksi setiap tahunnya, dengan persentase durasi pemakaiannya sebesar 50% hanya satu kali pakai. Dari jumlah tersebut, sekitar 8 juta ton plastik setiap tahunnya terbuang menuju lautan.

(Sumber: www.greentumble.com)

Di Indonesia sendiri plastik seolah telah menjadi bahan konsumsi sehari-hari dan tidak terpisahkan, mulai dari sebagai bahan pembungkus produk makanan dan kemasan, peralatan hingga kantong belanjaan. Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih menyebut total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14% dari total sampah yang ada. Tak ayal, saat ini pun Indonesia mendapat peringkat kedua dunia sebagai penghasil sampah plastik ke laut yang jumlahnya mencapai 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton.

Perkembangan Green Activism

(Sumber: www.ecorazzi.com)

Potensi dampak yang ditimbulkan dari satu permasalahan lingkungan yaitu sampah plastik telah memicu timbulnya respon  berbagai aksi dan kampanye penyelamatan lingkungan (green activism). Saat ini, telah banyak organisasi baik yang berskala internasional, nasional, maupun lokal yang secara konsisten mengampanyekan isu-isu lingkungan kepada masyarakat awam. Beberapa diantaranya seperti Greenpeace, sebuah organisasi internasional yang mengampanyekan penyelamatan lingkungan secara global; Greeneration, organisasi berkelanjutan yang memiliki misi menggerakkan manusia untuk berperilaku ramah lingkungan melalui teknologi informasi dan media kreatif. Selanjutnya ada Divers Clean Action, organisasi yang mengampanyekan bahwa penikmat diving harus bertanggung jawab dan berperan lebih besar dalam menjaga ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil dari sampah khususnya sampah plastik; Hijau Lestari, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal peduli lingkungan yang berdedikasi dalam mewujudkan program bank sampah, berkebun, dan daur ulang sampah; serta masih banyak lagi organisasi/ komunitas penggiat lingkungan lainnya.

Memahami Green Activism sebagai bentuk Jihad

Lalu dari sekian banyaknya green activism yang dilakukan oleh para aktivis lingkungan, bagaimana islam memandang hal tersebut? Islam merupakan agama rahmatan lil alamin yang membawa rahmat bagi alam semesta. Dalam islam diajarkan mengenai unsur ibadah dan muamalah. Ibadah sendiri dimaknai sebagai bentuk hubungan manusia kepada Sang Khaliq, Allah Swt., dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah mengisyaratkan bentuk hubungan dengan manusia sebagai makhluk-Nya yaitu dengan memberikan jabatan sebagai khalifatul fiil ardh ‘pemimpin di muka bumi’, yang senantiasa selalu mengingat nikmat-Nya dan tidak membuat kerusakan di dalamnya, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-A‘râf [7]: 74 yang artinya:

“Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kamu di bumi. Di tempat yang datar kamu dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kamu pahat menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.”

Adapun muamalah diartikan sebagai bentuk hubungan antara sesama manusia. Kaitannya terhadap lingkungan dapat dilihat dari upaya bersama-sama untuk saling mengingatkan dalam menjaga lingkungan. Bentuk inilah yang secara awam kita kenal sebagai green activism.

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas” (QS Al-Mâ’idah [5]: 2).

Odeh Rashed Al-Jayyousi mengatakan dalam bukunya yang berjudul Islam and Sustainable Development bahwa green activism merupakan salah satu bentuk jihad. Ia menamakannya sebagai green jihad (jihad lingkungan). Bagi sebagian kaum barat atau orientalis mungkin saat ini masih memandang bahwa jihad itu berbentuk kekerasan, bersifat radikal dan sering dianalogikan dengan peperangan. Padahal hakikatnya, jihad itu sendiri memiliki makna sebagai upaya bersungguh-sungguh dalam menempatkan sesuatu sesuai fitrahnya, mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal shaleh serta menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Bentuk jihad pun dapat bermacam-macam, termasuk salah satunya jihad lingkungan.

Bila kita telaah lebih dalam, banyak sekali firman Allah Swt. yang tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul terkait dalil jihad lingkungan. Namun dalam praktiknya, bagi sebagian umat muslim terkadang cukup sulit untuk menyadari korelasi antar keduanya sehingga tidak sedikit kita temukan orang-orang muslim yang kurang menyadari perannya dalam menjaga lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan, membuang air limbah langsung ke badan air tanpa pengolahan, menyisakan sisa makanan hingga terbuang menjadi sampah, pembalakan liar, perburuan satwa langka, eksploitasi sumber daya alam, dan masih banyak lagi.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS Al-Baqarah [2]: 164).

“Hadis dari Anas r.a. dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Seseorang muslim tidaklah menanam sebatang pohon atau menabur benih ke tanah, lalu datang burung atau manusia atau binatang memakan sebagian daripadanya, melainkan apa yang dimakan itu merupakan sedekahnya” (HR. Imam Bukhori).

“Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat; buang air besar di sumber air, ditengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh” (HR. Abu Daud).

“Barangsiapa yang memotong pohon Sidrah maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka” (HR. Abu Daud).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati kampung kaum Tsamûd, beliau melarang mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang mereka meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum. Karena maksiat kaum Tsamûd ini telah memengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan”.

Renungan

Maha Besar Allah yang telah memberikan banyak opsi dan kemudahan bagi kita untuk senantiasa beribadah kepada-Nya, termasuk dalam menjaga lingkungan. Lingkungan, bisa dimaknai sebagai hadiah sekaligus ujian dari Allah bagi umat manusia. Hadiah berarti menjadi ladang pahala bagi mereka yang berbuat kebaikan di dalamnya dan ujian sebagai bentuk amanah yang wajib dijaga supaya tidak berujung pada kerusakan.

Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Dina R. Laila

Penulis adalah lulusan prodi Teknik Lingkungan ITB yang sekarang bekerja sebagai konsultan di bidang lingkungan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.