Meluruskan Pandangan Muslim terhadap Sains

Islam merupakan seperangkat tata aturan yang mengatur kehidupan manusia. Manusia dan islam seperti obat dan petunjuk pemakaiannya. Jika salah dalam pemakaian obat, bukan malah sembuh bisa jadi menambah penyakit baru, obat mesti dipakai sesuai dengan petunjuk pemakaiannya agar dapat menyembuhkan. Begitu juga dengan manusia yang hidup tidak mengikuti aturan-aturan yang telah disusun oleh Penciptanya yang mana aturan itu dibuat supaya manusia selamat hidupnya, yang ada adalah kekacauan dan kerusakan dimana-mana. Jelas jika demikian, maka tak ada satu perkara manusia pun yang luput dari islam, mudah, sulit, besar kecil, umum, spesifik, semua ada petunjuknya.

Agar manusia dapat mengerti dan memahami islam sebagai tuntutan hidupnya dan hidup sesuai dengan tuntunannya, maka Allah menganugerahkan kepada manusia akal dan pengetahuan melaui alam semesta beserta isinya. Melalui akal manusia akan melahirkan ilmu pengetahuan, yaitu usaha sadar menyelidiki, menemukan dan me­ningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Seiring berjalannya jaman, akal manusia akan terus berkembang dan menghasilkan ilmu pengetahuan yang mendekati sempurna. Seyogyanya ilmu pengetahuan yang dimiliki digunakan dalam rangka memperjelas petunjuk-petunjuk di dalam islam sehingga lahir menjadi amalan-amalan manusia di dunia, menciptakan sebuah peradaban manusia yang sempurna.

Sayang, ketertarikan manusia dengan ilmu pengetahuan membuat manusia terjebak dalam dunia yang semua dinilai benar jika nyata terlihat dan terbukti adanya. Bahkan yang lebih ironi lagi islam ditafsirkan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dipe­roleh, jika sesuai dengan hasil penyelidikan maka islam dikatakan benar, jika tidak sesuai maka ada keraguan dalam islam. Ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi alat untuk menyempurnakan amal dalam menjalankan petunjuk-petunjuk Allah tetapi menjadi alternatif sumber lain dalam membuat aturan-aturan hidup.

Islam bersifat tetap dan ilmu pengetahuan berubah-ubah. Sehingga ilmu pengetahuan lah menyesuaikan dengan Islam, bukan sebaliknya. Islam “kalau perlu” boleh bertentangan dengan pengertian dan pengetahuan manusia, tetapi pengertian dan pengetahuan manusia yang terbukti benar tidak boleh dan tidak akan pernah bertentangan dengan islam. Bukan berarti bahwa islam mengajarkan untuk menjauhkan umatnya dari ilmu pengetahuan, bukan sama sekali! Ilmu pengetahuan harus dicari setinggi-tingginya, seluas-luasnya untuk membantu umat dalam menyempurnakan amal bakti kepada PenciptaNya.

Oleh: Leni Syarienti

Penulis adalah alumni Program Magister Psikologi UNPAD

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.