Masihkah Anda Membuang Makanan?

Tahukah Anda, membuang makanan menjadi salah satu kebiasaan yang viral di Indonesia saat ini.
Saat ini, banyak sekali bisnis penyedia makanan yang memberikan porsi ekstra besar bagi pelanggannya. Bisa jadi ini adalah teknik marketing yang dianggap jitu oleh pemilik bisnis, yang berprinsip: “harus memberikan lebih dari apa yang pelanggan harapkan”; salah satunya dari segi kuantitas. Namun seringkali, porsi makanan yang diberikan jauh lebih banyak ketimbang daya tampung rata-rata perut kita (orang Indonesia yang ukuran badannya kecil-kecil), sehingga ujung-ujungnya makanan itu berakhir di tempat sampah padahal terkadang sisa makanan itu masih layak konsumsi. Terlebih lagi, budaya untuk ‘take-away’ makanan yang tersisa di piring belum sepenuhnya tertanam.

Seorang kawan yang pernah bekerja di salah satu waralaba restoran cepat saji terkenal asal Amerika bercerita bahwa di perusahaan mereka haram hukumnya memberikan sisa-sisa makanan kepada siapa pun biarpun sisa-sisa makanan itu yang masih layak konsumsi. Daging ayam, roti, sayur, bahkan yang belum diolah harus dimusnahkan dengan cara dibakar untuk memastikan mereka tidak jatuh ke tangan orang lain. Selain menjaga kualitas, ini juga dilakukan supaya ekslusivitas pelanggan tetap terjaga. Bayangkan, betapa akan kecewanya seorang pelanggan sebuah restoran yang membayar mahal untuk sepotong ayam goreng jika ia tahu bahwa di belakang dapur restoran itu ada seorang tuna wisma yang juga bisa dapat potongan ayam dengan rasa yang sama dari tempat pembuangan sisa makanan.

Sepintas, cerita di atas ada bagusnya. Tapi jika dipikirkan, ada berapa banyak restoran, hotel, rumah makan, kedai kopi dan sebagainya di Indonesia yang membuang sisa makanan layak konsumsi setiap harinya. Pasti banyak sekali. Belum lagi, sisa makanan dari tempat tinggal domestik seperti rumah-rumah atau apartemen-apartemen. Mungkin belum ada data akurat tentang jumlah sisa makanan yang dibuang di Indonesia, tapi pada tahun 2010, jumlah sampah makanan di dunia mencapai 1,3 trilliun ton. Padahal, untuk memproduksi makanan dengan jumlah tersebut kira-kira dibutuhkan lebih dari 600 km3 air, 300 juta gallon minyak bumi dan penebangan hutan seluas 9,7 juta hektar. Selain mubazir, sisa makanan ini juga berkontribusi pada jumlah sampah yang ada (isu lingkungan hidup). Di Jakarta saja, 70% sampah yang ada berasal dari sisa makanan dengan rata-rata 0.5 kg sisa makanan yang dibuang per orang per hari.

Ada kalanya memang sisa makanan terutama yang sudah diolah tidak bisa diapa-apakan lagi selain dibuang ketika tidak jadi dimakan. Tapi sebetulnya tidak jarang juga kita meninggalkan begitu saja makanan yang belum disentuh atau belum digigit, baik utuh ataupun sebagian. Jauh lebih baik jika kita bisa bawa pulang dengan memasukkannya dalam lunch box kita atau styrofoam box yang bisa diminta dari restoran. Mungkin bisa kita makan lagi suatu waktu ketika lapar, atau diberikan ke orang lain misalnya diberikan ke pengamen di pinggir jalan. Jarang sekali mereka menolak.

Untuk sisa bahan makanan layak konsumsi yang belum diolah, banyak hal yang bisa dilakukan. Memasak bahan makanan selama memang belum kadaluarsa sebenarnya bisa memperpanjang waktu layak konsumsi bahan-bahan itu. Jarang sekali sumbangan bahan makanan atau masakan jadi ditampik oleh lembaga-lembaga sosial di sekitar kita. Tidak semua orang beruntung bisa makan dengan kenyang pada waktunya setiap hari.

Ketika saya berkunjung ke Sydney, pada hari-hari tertentu diadakan festival makanan gratis di area Central Business District-nya. Pegawai junior hingga wirausahawan eksekutif mengantri makan di sana. Panitianya, sebuah NGO bernama Oz Harvest ternyata secara sukarela me­ngumpulkan makanan-makanan sisa layak konsumsi dari restoran-restoran di seantero Sydney. Mereka kemudian mengolahnya dan membagikannya gratis. Rasanya sama enak dengan makanan baru. Ternyata, event ini hanya sebagai promosi dari kegiatan harian mereka yang serupa hanya saja makanan olahannya dibagikan pada kaum kurang mampu di pinggiran Sydney. Setelah sempat mengalami kesulitan mengimplementasikan ide ini di awal, kegiatan ini sekarang didukung oleh pemerintah dan bisnis-bisnis besar di Australia.Jika Australia yang berpenduduk sedikit bisa melakukan itu, Indonesia dengan penduduk yang banyak dan bahan makanan yang berlimpah terutama di kota-kota besar pantasnya lebih bisa lagi. Apalagi penduduk Indonesia kebanyakan muslim dan Islam mengajarkan untuk tidak berlaku mubazir (Q.S. Al Isra 26-27) serta untuk memberi makan orang yang lebih tidak beruntung dan anak yatim/piatu (Q.S Al Insaan 76 : 8, Q.S Al Balad 90 : 12-15). Memberi makan orang lain memang tidak mudah. Tapi memberikan sisa makanan kita yang masih layak seharusnya lebih mudah dari itu. Semua orang butuh makan, termasuk yang tidak mampu membeli. Semua orang suka makanan gratis asal layak konsumsi. Ini adalah ide yang bagus untuk menghindari kemubaziran, me­ngurangi isu lingkungan hidup, mengatasi sebagian isu sosial, dan berpeluang untuk mencari pahala.

Oleh: Arief Nuryadi

Penulis adalah alumni Program Magister di Tohoku University yang sekarang berprofesi sebagai staf ahli di salah satu konsultan lingkungan di Jakarta

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.