Ini Hutanku… Aku yang Seharusnya Paling Tahu…

Rasanya sudah tertanam di kepala-kepala orang Indonesia bahwa negara kita, Indonesia, memiliki hutan-hutan hujan tropis yang lebat di­sertai dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Namun, berapa sih dari kita yang sadar bahwa itu semua bukan sekadar fakta yang terpampang di buku-buku pelajaran sekolah? Seberapa banyak kah dari kita yang benar-benar paham arti pentingnya semua itu?

Bulan Juni 2009 membawaku terbang ke Sabah-Sarawak, Malaysia, untuk mengikuti sebuah acara sekolah musim panas yang diadakan secara kolaborasi oleh Universitas Harvard dengan berbagai pihak. Biodiversity of Borneo nama programnya. Selama enam minggu, mahasiswa terpilih dari Asia Tenggara dan Universitas Harvard bersama-sama menjalani kuliah lapangan yang menunjukkan tingginya keanekaragaman hayati di Borneo beserta hal-hal yang mengancamnya.

Peserta Biodeversity of Borneo 2009, Air Terjun Malio, sumber: Phylodiversity.net
Kuliah lapangan di hutan Lambir, foto @ Mindy Tuan, 2009

Kami berpindah dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya… menelusuri hutan-hutan… menyelami dalamnya lautan… mendaki tingginya gunung dan membuat kehebohan ala paparazzi setiap kali me-nemukan hewan atau tumbuhan unik (mind you… di mata kami semua unik :p). Pada intinya, program ini meninggalkan kesan yang mendalam di benakku. Di sana aku menyadari betapa banyak aku tidak tahu….

Jika dipikir-pikir, siapa sebenarnya yang tinggal di negara tropis dengan berjuta biodiversitas? Aku….
Lantas mengapa di bawah rapatnya daun-daun pohon meranti itu, aku yang takjub mendengarkan penjelasan seorang Amerika tentang synchronized flowering dan mass fruiting*? Mengapa mataku yang berbinar kala membaca buku petunjuk lapangan tentang spesies jahe-jahean karangan seorang botanis asal Denmark?

Bukan… ini bukan soal ingin rasis dan memonopoli ilmu, seolah-olah ilmu tentang ekosistem tropis hanya orang lintang 0o saja yang boleh punya. Toh ilmu itu bebas dipelajari siapapun… dan siapapun bebas memilih cabang ilmu mana yang ingin ia dalami. Ini soal apresiasi. Apresiasi terhadap apa yang ada di hadapan kita.
Bertemu dengan pengajar luar negeri yang memiliki hasrat dan pengetahuan luar biasa mengenai sesuatu yang ‘kita miliki’ benar-benar membuatku sadar bahwa aku tak tahu apa-apa soal harta berharga yang ada di depan mata. Padahal, kita yang musti merawat, bukan?

Oleh karena itu, kekayaan alam milik kita ini tak cukup hanya dibangga-banggakan saja. Ada kerumitan komponen-komponen di dalamnya yang harus dipelajari agar fungsinya tetap berjalan sekaligus tetap bisa dimanfaatkan oleh manusia. Kita juga harus ingat bahwa hutan, sungai, gunung dan lautan yang luas ini adalah amanah dari Allah SWT yang harus kita kelola dengan benar. Untuk itu, mengenal dan memahaminya adalah suatu keharusan.

Trek pendakian Gunung Kinabalu foto @ Biofagri 2009

Terkadang, kita terlalu terbiasa akan sesuatu sehingga menganggap hal itu normal dan tidak penting. Padahal, ‘ketidak-pentingan’ dari sesuatu itu adalah ilusi yang kita ciptakan sendiri. Jangan sampai kita merasa kekayaan hayati negeri kita ini berharga ketika sudah kehilangan semua­nya. Naudzubillahiminzalik! Kita tak ingin gagal, bukan, dalam mengemban amanah sang Khalik? Oleh karena itu, syukurilah pemberian tersebut dengan mempelajari dan menjaganya sepenuh hati. Jadilah yang terbaik dan yang paling berilmu soal titipan ini karena kewajiban terberat untuk mengelolanya ada di pundak kita.

* synchronized flowering adalah perilaku sekelompok individu tanaman dari spesies yang sama pada suatu area geografis untuk berbunga pada saat bersamaan. Fenomena ini menyebabkan produksi buah/biji secara besar-besaran (mass fruiting) pada area tersebut.

Oleh: Biofagri A. Rachmayuningtyas

Penulis adalah alumni Program Magister Biologi Erasmus Mundus yang sekarang berprofesi sebagai editor manuscript ilmiah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.