Ilmu: Pencarian Sepanjang Hayat

Salah satu dilema ketika lulus adalah pilihan beragam yang tersedia. Ada sebuah pernyataan menarik dari meme yang marak di media sosial menyebutkan bahwa lulus hanyalah bentuk pergantian status dari mahasiswa menjadi pengangguran. Benarkah itu? Mungkin bagi sebagian fresh graduate akan me­n­jawab iya. Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa cepat waktu yang dibutuhkan hingga status saat lulus (pengangguran) itu berubah kembali? Status tersebut bisa menjadi pegawai, pengusaha, ataupun pelajar kembali. Setiap pilihan mempunyai konsekuensinya masing-masing, tidak ada pilihan yang salah ataupun benar, tergantung apa yang kita rencanakan dikemudian hari.
Disini kita tidak akan membahas satu-persatu dari pilihan yang telah disebutkan, saya hanya ingin mengungkapkan apa yang ada dalam benak saya mengenai pilihan yang harus diambil. Semua berawal dari pertanyaan, “Bagaimana posisi ilmu penge­tahuan dalam kehidupan? Bagaimana kewajiban manusia dalam menuntut ilmu pengetahuan?”

Terkadang menjadi orang kritis itu menarik, atau so kritis? Hah sudahlah apapun itu namanya, memang orang di zaman sekarang terlalu banyak yang menganggap dirinya ahli dibidangnya. Saya tidak peduli dengan apa yang ada dalam benak anda ketika saya bertindak so kritis, itu pilihan anda, jika tertarik maka lanjutkan! Jika tidak, sudah cukupkan mungkin kita tidak berjodoh.Pernahkah anda berfikir, kenapa keba­nyakan peneliti tersohor bukan seorang muslim? Ataukah anda menyimpulkan bahwa seorang muslim memang tidak bisa menjadi peneliti tersohor? Rasanya hal ini bertolak belakang dengan perintah Allah swt. yang mewajibkan hamba-Nya untuk senantiasa menuntut ilmu, bahkan Allah swt. menyebutkan bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan,

‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang ang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Jelas bahwa orang-orang berilmu mempunyai kedudukan yang spesial di hadapan Allah swt., lantas mengapa pada zaman akhir-akhir ini sangat jarang cendekiawan muslim yang muncul kepermukaan? Pernahkah anda berfikir bahwa saat ini muslim ditekan agar tidak berkembang, muslim dibiarkan tertinggal agar tidak bisa bangkit. Umat muslim terlalu sibuk dengan perpecahan, terlalu sibuk dengan urusan keamanan, terlalu sibuk dengan keduniaan. Padahal telah jelas bahwa umat manusia (umat muslim) adalah sebagai wali Allah swt. dimuka bumi yang mempunyai tanggungjawab untuk memelihara bumi dan seluruh isinya.

Jadi bagaimana umat muslim mengambil sikap dalam hal menuntut ilmu? Mencari ilmu merupakan salah satu kewajiban bagi umat muslim, terbukti dengan perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw. adalah untuk membaca. Membaca dalam konteks ini sangatlah luas namun apabila kita generalisasi, dapat disimpulkan bahwa umat muslim memerlukan ilmu pengetahuan untuk membaca semua hal yang ada di bumi milik Allah swt. ini. Bumi berjalan, bumi bekerja, bumi beroperasi sudah merupakan Suna­tullah (hukum Allah), peran kita adalah untuk memeliharanya.

Semakin tinggi pemahaman manusia terhadap ilmu pengetahuan seharusnya menjadikan manusia lebih rendah hati, tawadhu. Karena semakin tahu maka akan semakin sadar bahwa kita hanyalah sebuah bagian yang begitu kecil dari kehidupan di dunia ini. Konsep seperti inilah yang di kedepankan oleh umat Islam, sehingga semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seorang muslim maka akan semakin tinggi pula ketaqwaan dari muslim tersebut. Berbeda halnya dengan doktrin yang ditanamkan oleh kaum liberal, mereka beranggapan bahwa semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang maka kemungkinan seseorang untuk menaklukan orang lain, bahkan dunia pun semakin besar. Tidak heran jika sekarang banyak penjajahan baik langsung maupun tidak langsung terjadi dimana-mana.

Kembali ke bahasan awal bahwa saya hanya ingin memberikan pandangan akan pilihan yang ada setelah lulus dari universitas (S1). Menurut saya, menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban yang telah jelas diperintahkan oleh Allah swt., me­nuntut ilmu merupakan jalan untuk lebih mengenal hakikat manusia, mengenal tugas pokok manusia, mengenal tujuan dari penciptaan manusia. Kebenaran Al Quran akan ilmu pengetahuan sudah tidak diragukan, Al Quran merupakan pedoman hidup, Al Quran merupakan kitab yang berlaku bagi seluruh umat manusia. Maka sudah sewajibnya kita menjadikan Al Quran sebagai pedoman utama kehidupan di muka bumi.

“Stay hungry, stay foolish”- Steve Jobs

Ini hanyalah sebuah pandangan dari seseorang yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 di salah satu universitas di Bandung dengan predikat yang super pas-pasan. Seseorang yang masih belum bisa percaya bahwa dirinya bisa menyelesaikan pendidikan tersebut. Seseorang yang baru tersadar bahwa menuntut ilmu itu penting, seseorang yang berusaha untuk menjadi mata air yang memberikan kerjenihan pada lingkungan sekitarnya. Seseorang yang akan mengajak ANDA untuk tetap lapar dan tetap bodoh dalam menuntut ilmu. Semoga kita senantiasa menjadi umat muslim yang selamanya bertaqwa dan jalan untuk mencapai itu adalah de­ngan belajar dan terus belajar. Jadi gimana, apakah kita berjodoh? Salam!

Oleh: Fikry Purwa Lugina
Penulis adalah alumni Program Studi Meteo­rologi ITB

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.