Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Ketertinggalan Umat Islam

Abad ke-tujuh Masehi merupakan awal dari masa keemasan pe­nemuan sains di bawah naungan Islam. Víctor Pallejà de Bustinza, dalam tulisannya di majalah National Geographic edisi Desember 2016, menyebut berbagai ilmuwan Islam yang berperan besar dalam kemajuan di bidang pengobatan. Sebut saja Al-Razi dengan berbagai tulisannya seputar dunia medis, Al-Zahrawi dengan berbagai temuan alat medis serta buku ilus­trasi bedahnya, Ibnu Sina dengan bukunya Ca­non of Medicine (terdiri atas lima volume yang mencakup semua pengetahuan medis yang diketahui saat itu), Ibnu Rushdi de­ngan ensiklopedia medisnya yang disebut Colliget dalam bahasa latin, Ottoman Serefeddin Sabuncuoglu dengan karya bergambarnya yang menunjukkan prosedur medis terdepan yang dipraktikan oleh Muslim, dan masih banyak lainnya. Tentunya dalam artikel tersebut, hanya ilmuwan Islam di bidang medis saja yang disebut. Namun pada masa yang sama, banyak juga muncul tokoh-tokoh Islam yang turut memajukan ilmu pengetahuan di bidang lain seperti fisika, astronomi dan matematika. Jadi, masa kejayaan Islam saat itu diiringi dengan sejumlah karya-karya sains yang menjadi landasan berkembangnya ilmu pengetahuan hingga saat ini.
Zaman berubah, roda kehidupan berputar. Dahulu Islam berada di garda depan kemajuan sains, sekarang kita mengekor di belakang. Bahkan, mungkin ada dari kita yang malah berjalan mundur ke belakang sambil menatap skeptis dan sinis terhadap apa yang ada di depan. Apapun yang datangnya (terutama) dari Barat dicurigai. Suatu produk keilmuan langsung ditolak mentah-mentah tanpa proses cek dan ricek terlebih dahulu manakala isu konspirasi dihembuskan. Pokoknya, Barat itu musuh Islam, maka ilmu apapun yang dihasilkan oleh pemikiran Barat adalah senjata yang digunakan untuk melumpuhkan Islam. Belum lagi kalau kebetulan ada ayat dari Kitab Suci yang terdengar tidak sesuai de­ngan fakta iptek terkini; hal ini seolah-olah menjadi ‘bukti’ bahwa ilmu pengetahuan tidak sesuai dengan Islam, dan karenanya keduanya ibarat air dengan minyak. Kritis dan selektif itu harus, tapi menyamaratakan dan mencampakan semua hal tanpa pandang bulu itu paranoia berlebihan namanya. Pada akhirnya, kita seolah-olah menjadi antipati terhadap kemajuan ilmu pengetahuan hanya karena Baratlah yang sekarang sedang me­mimpin di depan.

Ilustrasi dalam salah satu halaman buku Canon of Medicine karangan Ibnu Sina. Sumber: http://www.muslimheritage.com

Lantas, bagaimana Islam mau kembali menjadi nomor satu jika orang lain berpikir progresif sedangkan kita regresif? Betul bahwa dulu saat Islam jaya, sains berkembang sangat pesat. Islam pun melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan hebat dan ternama serta menjadi kiblat ilmu pengetahuan saat itu. Namun itu dulu… dan sayangnya perkembangan ilmu pengetahuan tidak berhenti sampai di situ saja. Sudah pasti bahwa apa yang dibawa Islam dahulu punya andil dalam membentuk ilmu pengetahuan modern, namun kita mau tidak mau harus mengakui bahwa sekarang bukan kita lagi yang sedang menjadi pusat. Justru karena itulah kita harus mengejar, bukan mencibir dan menghindar.
Untuk memulai ikhtiar kita, ada baiknya jika kita telaah lagi mengapa dulu sains dunia Islam begitu maju. Di abad ke delapan, kalifah Harun al-Rashid mendirikan ‘rumah kebijaksanaan’ atau the House of Wisdom di Bagdad. Di sana, para kaum cendekia menerjemahkan banyak sekali manuskrip dan teks-teks kuno. Kemudian, seperti telah disebutkan sebe­lumnya, Ibnu Sina mengkompilasi semua pengetahuan medis yang diketahui saat itu ke dalam buku. Apa artinya? Artinya adalah, Ilmuwan-ilmuwan Muslim saat itu bisa membuat gebrakan di dalam dunia sains karena mereka mau mempelajari ilmu-ilmu dari manapun yang telah sebelumnya ada dan kemudian mengembangkannya. Dengan cara itulah ilmu pengetahuan bisa maju. Revolusi-re­volusi sains yang terjadi saat ini pun berlandaskan pada pengetahuan yang sudah ada sebelumnya (Gambar 1). Oleh karena itu, akan sulit bagi kita untuk bisa menjadi yang terdepan apabila kita menolak ilmu yang tengah berkembang sekarang. Hal ini disebabkan, untuk menjadi yang terdepan kita butuh gebrakan, dan gebrakan tidak akan bisa ada apabila tidak dilandaskan pada apa yang sudah ada saat ini.

Setelah kita mau membuka diri terhadap kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, hal yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah meninjau ulang cara kita memandang hubungan antara ilmu pengetahuan dan ayat Qur’an. Satu hal yang pasti, sains itu akan terus berkembang dan menyempurnakan diri. Oleh karena itu, kebenaran sains adalah relatif; yang hari ini dianggap benar bisa saja besok menjadi benar tapi tidak sempurna atau malah salah sama sekali. Di sisi lain, ayat Qur’an sifatnya statis, kebenarannya absolut (bagi yang percaya). Lalu bagaimana ketika klaim sains bertentangan dengan klaim dari Qur’an yang kita pahami? Kita tidak perlu kebakaran jenggot dan buru-buru mengkotak-kotakan sains dan Qur’an seolah-olah mereka dua hal yang tidak bisa berdam­pingan. Dalam bukunya yang berjudul The Eternal Cha­llenge, Abu Zakariya menuliskan, “Ketika seseorang membaca Qur’an, mereka akan menemukan sesuatu yang unik: yaitu bahwa deskripsi tentang alam semesta yang ada di Qur’an terkesan tidak memiliki batasan waktu. Qur’an ditujukan untuk orang dengan beraneka tingkat pemahaman, pada waktu yang berbeda-beda. Satu kata di dalamnya dapat mengandung arti yang bermacam-macam. Kata-kata seperti ini bisa koheren dengan pemahaman lampau maupun masa kini tentang alam semesta, pun bisa mengan­dung makna spiritual maupun pesan moral.”

Sebagai contoh dalam bukunya, Abu Zakariya menggunakan surat Al-Anbiya (21) ayat 33 yang berbunyi, “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar (berenang) pada garis edarnya.” Pada ayat tersebut digunakan kata “yasbahuna” untuk menjelaskan pergerakan matahari dan bulan. Kata yang secara literal berarti berenang ini masuk akal bagi orang Arab di masa lampau karena mereka bisa mengamati benda-benda langit bergerak di angkasa dengan mata telanjang. Tapi kata ini juga masuk akal bagi kita yang sekarang tahu (berkat ilmu pengetahuan) bahwa planet-planet memiliki orbit. Pada ayat tersebut juga disebutkan bahwa matahari pun berenang/beredar pada orbit. Hal ini bisa sesuai dengan pandangan abad 7 bahwa matahari beredar mengelilingi bumi, namun bisa juga sesuai dengan pengetahuan saat ini bahwa matahari memiliki orbitnya sendiri. Oleh karena itu, ketika ada ketidaksesuaian antara fakta/teori sains dengan ayat Qur’an, kita perlu bersikap kritis baik pada fakta/teori tersebut dan juga terhadap pemahaman kita terhadap ayat Qur’an yang dimaksud (ingat, bukan terhadap kebenaran Qur’annya, namun terhadap pemahaman kita). Bisa jadi fakta/teori itu memang salah atau belum sempurna (artinya ada ruang untuk menyempurnakan) atau bisa jadi kita yang terlalu sempit dalam memahami Quran padahal kata-kata di Qur’an bisa mengandung makna yang luas dan banyak.

Untuk itu, mari kita mulai mengejar ke­tertinggalan menuju kemajuan. Mari kita mulai berpikir kritis dan objektif. Janganlah anggap ilmu pengetahuan sebagai momok. Justru dengan belajar, belajar dan belajar, kita bisa sampai kepada derajat yang lebih tinggi di mata Allah. Namun tentu saja harus ada proses penyaringan ketat yang kita lakukan karena ilmu-ilmu yang berkembang sekarang seringkali tidak lepas dari nilai-nilai sekularisme ataupun materialisme yang anti Tuhan. Masyarakat Barat bangkit dari keterpurukannya dan mulai melaju cepat ketika mereka mulai memisahkan diri dari kungkungan dan dogma-dogma agama. Sebaliknya, bagi kita sebagai muslim, berpikir dan bersikap sekuler adalah sebab kemunduran kita. Yakinlah bahwa kita bisa melaju tanpa harus menanggalkan keimanan kita. Bahkan, kita harus bisa menggali dan mendalami sains berdasarkan kerangka Islam, dengan panduan Qur’an dan Sunnah. Insyaallah hasilnya adalah terbukanya rahasia ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban yang jauh lebih tinggi dari yang ada sekarang. Hal ini telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita. Sekarang giliran kita. Mari kita maju… Mari kita rangkul ilmu pengetahuan, rangkul pe­nemuan, rangkul kemajuan dan berhenti bersikap paranoid dan dogmatis setiap saat.

Penulis: Biofagri A. Rachmayuningtyas
Penulis adalah alumni Program Magister Biologi Erasmus Mundus yang sekarang berprofesi sebagai editor manuscript ilmiah

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.