Antara Science, Ateisme, dan Tauhid

“Hand coordination should indicate the mystery of the Creator’s invention,” and “[the biomechanical characteristic] is the proper design by the Creator to perform a multitude of daily tasks in a comfortable way”, kalimat tersebut adalah potongan dari artikel ilmiah yang diterbitkan jurnal PLOS ONE di awal tahun 2016. Terbitnya artikel ini mengundang badai kritik dari berbagai ilmuwan yang menyebut artikel tersebut sebagai “Joke”.

Sebuah paper yang berjudul “Biomechanical characteristics of hand coordination in grasping activities of daily living,” diterbitkan oleh peer-reviewed journal PLOS ONE pada januari 2016. Artikel tersebut ditulis oleh tim peneliti yang diketuai Cai-Hua Xiong dari Huazhong University of sains and Technology di Wuhan, Cina. Pada awalnya tidak ada orang yang menaruh perhatian terhadap artikel tersebut hingga seorang peneliti computational molecular evolution bernama James McInerney dari University of Manchester, Inggris, menyebut jurnal tersebut sebagai Joke di akun twitternya. Seketika, bagaikan halilintar di tengah siang, artikel tersebut menjadi sorotan para ilmuwan yang sekaligus menghujaninya dengan berbagai hujatan. Hal ini disebabkan, kata creator disebut beberapa kali pada artikel tersebut, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa ada keterlibatan grand design Tuhan dalam gerak koordinasi tangan. Bahkan kalimat kesimpulan dari artikel tersebut juga cukup mengejutkan dari segi ilmiah yaitu,

“In conclusion, our study can improve the understanding of the human hand and confirm that the mechanical architecture is the proper design by the Creator for dexterous performance of numerous functions following the evolutionary remodelling of the ancestral hand for millions of years.”

Dunia ilmiah atau sains yang materia­listik dan senantiasa menghindari aspek religi tentu saja tidak bisa menerima adanya penjelasan secara supranatural dalam mendeskripsikan fenomena alam. Para ilmuwan yang cenderung sekuler dan mengedepankan paham rationalisme dan empirisisme seakan berang dengan adanya kata creator/pencipta dalam artikel tersebut. Meskipun pada akhirnya jurnal itu ditarik kembali dengan klarifikasi dari penelitinya, namun yang menjadi bahan pemikiran adalah mengapa dunia sains seakan tidak bisa bersahabat dengan agama? Mengapa sains seakan tidak bisa menerima eksistensi Tuhan? Saya jadi teringat kata-kata dosen saya ketika sedang membahas perkembangan manusia, “pisahkan antara dunia sains dengan agama”.

Sains is not value-free
Sains yang berkembang di dunia saat ini sebenarnya tidak netral atau tidak bebas nilai. Saat ini, sains lebih berlandaskan pada ateisme, yaitu ketidakpercayaan akan adanya Tuhan. Revolusi industri di Eropa selanjutnya mendorong penyebaran pendidikan sains yang berlandaskan ateisme ini ke dunia. Menurut Syamsudin Arif, PhD., seorang dosen dan peneliti senior di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), sains yang berkembang di dunia saat ini mengandung beberapa paham, antara lain empirisisme, rasionalisme, naturalisme, sekulerisme dan saintisme.

Empirisisme berarti sains mendasarkan kebenaran pada sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indra manusia. Sesuatu dikatakan benar adanya jika bisa diuji atau diverifikasi dengan suatu eksperimen yang hasilnya bisa terlihat, terdengar atau dirasakan. Paham ini sangat mendukung ateisme. Bertolak belakang de­ngan empirisisme, rasionalisme berarti sains menyandarkan kebenaran pada logika manusia. Sesuatu dianggap benar dan diakui eksistensinya jika secara logika bisa diterima. Sebagai contoh, teori relativitas khusus sampai saat ini adalah teori yang belum terbukti secara empiris. Pembuktiannya baru sebatas kalkulasi matematika, namun secara logika dianggap benar adanya. Rasionalisme juga mendukung penolakan terhadap adanya Tuhan yang dianggap tidak logis.
Naturalisme dalam sains berarti hanya mempercayai semua yang ada berasal dari dan sebab kejadian alam. Kebenaran tidak dapat diambil dari sesuatu yang supranatural atau yang tidak tidak secara alami. Oleh karena itu, sesuatu yang gaib tentu tidak akan diterima oleh sains. Naturalisme ini juga dikenal sebagai ateisme praktis. Sekulerisme sains berarti memisahkan antara dunia sains dengan dunia agama. Agama diakui namun dianggap terpisah dari sains dan hanya sebatas ruang lingkup pribadi, tidak menyentuh aspek interaksi sosial atau publik. Sekulerisme sendiri sebenarnya seperti meniadakan Tuhan dalam ranah sosial, sains dan ruang lingkup publik lainnya. Namun, perlu diketahui bahwa sekukerisme pada awalnya muncul karena penolakan dominasi gereja yang korup di Eropa, jadi tidak berlaku pada semua agama. Saintisme sebagai dasar pemahaman sains menunjukkan bahwa sains tidak bisa dilepaskan dari pelaku sains ya­itu scientist. Tergantung nilai apa yang dimiliki oleh scientist tersebut maka sains memiliki nilai yang sama. Ketika scientist-nya ateis, maka sains pun akan bernilai ateis. Scientist itu manusia bukan malaikat, seda­ngkan manusia memiliki living context, pemahaman, pilihan, perasaan, emosi dan kecenderungan. Maka dari itu, sains tidak mungkin bebas nilai/kepentingan. Asumsi dan basis dari pertanyaan riset yang diajukan oleh scientist akan memiliki nilai tertentu sesuai living context nya. Sebagai contoh, banyak peneliti mengajukan atau mengembangkan penelitian yang beririsan dengan kepentingan industri karena dana akan banyak tersedia di sana.

Sejarah ateisme sebagai dasar sains
Pemikiran sekuler tumbuh berkembang pada masa pencerahan (enlightenment) sekitar abad 17 di Eropa sebagai respon terhadap dominasi dan penyelewengan gereja. Pada tahun 391 M, agama kristen katolik dijadikan sebagai agama negara oleh kaisar romawi kala itu. Katolik pun tersebar dan diterima oleh masyarakat Eropa. Pada tahun 410 M, Romawi runtuh karena kemunduran kerajaan dan peperangan. Eropa pun memasuki zaman kegelapan (Dark age) dengan munculnya tuan tanah (land lord) berpandangan feodalisme. Mereka didukung dan dilegalkan oleh pihak gereja dan negara yang korup untuk mengeksploitasi rakyat. Masyarakat Eropa sangat tidak teratur saat itu. Dewan gereja memiliki pengaruh dan kekuasaan dalam politik dan publik. Doktrin penyimpangan surat pengampunan dosa atau indulgensia yang konon digunakan untuk pembangunan gereja merajalela kala itu. Perlambatan dan kemandegan terjadi dalam berbagai dimensi, tidak terkecuali sains; sains lebih dianggap sebagai ilmu sihir dan yang bertentangan dengan doktrin gereja harus dimusnahkan. Tentunya kita masih ingat nasib dari Copernicus dengan teori heliosentrisnya dan Galileo dengan teori bumi bulatnya; mereka adalah korban zaman kegelapan eropa. Sekitar abad ke 16 – 17 bermunculanlah para pemikir-pemikir eropa yang menggangap agama Kristen hanya sebuah penjara yang membatasi kehidupan manusia, diantaranya dalam segi sains. Oleh karena itu, mulai banyak pemikiran untuk memisahkan antara gereja dan ranah publik atau yang dikenal dengan istilah sekuler. Puncaknya terjadi pada saat revolusi Perancis abad ke 17, yang ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille. Sejak saat itu, pemikiran mengenai rasionalisme dan naturalisme mulai bermunculan. Pemahaman-pemahaman itu juga yang akhirnya mendorong paham ateisme atau ketidakpercayaan pada Tuhan. Sains pun akhir­nya berkembang di Eropa dengan mengenyam­pingkan aspek keyakinan agama atau lebih kepada paham ateisme.

Ateisme VS Tauhid
Ateisme sering diartikan dengan ketidakpercayaan terhadap Tuhan. Namun apakah benar bahwa Ateisme itu ada? Menurut Ir. Imaduddin Abdulrahim, M.Sc., seorang ulama dan teknokrat ITB, faham ateisme adalah omong kosong, tidak mungkin ada manusia yang ateis. Iblis sebagai nenek moyang kejahiliyahan pun percaya adanya Tuhan. Bahkan, dalam kamus bahasa Arab sekalipun, kata ateisme tidak ada. Orang Arab zaman sekarang menggunakan kata Ilhad sebagai padanan kata ateisme. Kata Ilhad sebagai padanan kata Ateisme sebenarnya tidak sepenuhnya tepat, karena Ilhad sendiri berasal dari kata Lahada yang artinya adalah menggali lubang atau terjerumus ke dalam lubang galian. Kita tentunya kenal dengan istilah Liang lahad, bukan? Dalam Al-Qur’an sendiri tidak ada istilah yang menggambarkan ateisme. Hal yang menarik adalah, apakah Qu’ran lupa tentang keberadaan ateisme? Dalam Al Qur’an kata Tuhan sering di­sebut dengan Illah. Makna Illah inilah yang di dalam Qur’an dideskripsikan dengan luas. Kata Illah muncul dalam beberapa ayat Al Quran diantaranya:

Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai Illahnya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? [QS. Al-Furqan: Ayat 43]

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Illahnya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? [QS. Al-Jasiyah: Ayat 23]

Dr.Ir. Imaduddin Abdulrahim (Alm.) salah seorang pelopor berdirinya ICMI yang biasa disapa Bang Imad. Semasa hidupnya beliau sering mengisi kuliah tauhid diantaranya pada kuliah subuh di stasiun TV RCTI. Sumber: www.icmi-na.org

Dan Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Illah bagimu selain aku. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhannya Musa, dan aku yakin bahwa dia termasuk pendusta.”
[QS. Al-Qasas: Ayat 38]

Dan mereka telah memilih Illah-Illah selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung/kemuliaan bagi mereka. [QS. Maryam: Ayat 81]

Maka mengapa (berhala-berhala dan Illah-Illah) yang mereka sembah selain Allah untuk mendekatkan diri (kepada-Nya) tidak dapat menolong mereka? Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka; dan itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan. [QS. Al-Ahqaf: Ayat 28]

Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas, Illah bisa diartikan sebagai keinginan, hawa nafsu, penguasa/pemimpin jahiliyah, pelindung/kemuliaan dan penolong. Dari sini, Illah bisa diartikan sebagai sesuatu yang bersifat materi maupun non materi. Menurut terminologi Quran tersebut, dapat disimpulkan bahwa Illah adalah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominasi) olehnya (sesuatu itu). Menurut Ibnu Taimiyah, Al-ilah ialah yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo’a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengi­ngatnya dan terpaut cinta kepadanya.

Jika melihat penjelasan di atas, maka dari kaca mata Islam, tidak mungkin ada orang yang tidak memiliki Illah (ateis); yang pa­ling mungkin adalah orang yang bertauhid, memiliki satu Illah, Laa ilaaha Illahlah, yaitu Allah, atau musyrik dengan banyak Illah. Di dalam diri manusia, ilah-ilah lain selain Allah ini bisa berwujud egoisme dirinya, hawa nafsunya, logikanya, cita-cita atau ideologinya serta keyakinannya.
Manusia pasti memiliki keyakinan, keyakinan inilah yang bisa menjadi sandaran hidup, dianggap pelindung dan penolong dan ia rela untuk didominasi olehnya. Keyakinan bahwa kebenaran itu hanya bisa diperoleh secara empiris atau dengan rasio, keyakinan terhadap sekulerisme atau ideologi komunisme bisa menjadi Illah bagi manusia. Begitu pula dalam dunia scientific, pertanyaan riset akan terbentuk dari kerangka berpikir Tauhid atau non tauhid. Apabila dasar liberalisme yang digunakan, sains dan teknologi karet bisa berkembang menjadi kondom yang mendukung seks bebas. Apabila dasar ateisme yang digunakan, sains dan teknologi DNA bisa dikembangkan untuk memperteguh keyakinan bahwa asal-muasal makhluk hidup bukanlah dari Tuhan. Oleh karena itu, ketika tauhid yang menjadi dasarnya, perkembangan sains akan bersifat lebih selektif. Selain itu, ia akan senantiasa me­ngarah kepada kemajuan serta solusi terhadap permasalah umat tanpa menimbulkan kebingungan (seperti yang kerap terjadi saat ini). Hal ini dikarenakan semuanya dibuat dengan mengikuti standar benar-salah/halal-haram di dalam Quran. Scientist pun akan sesuai dengan filosofi padi, semakin berisi semakin menunduk, karena mereka menghadirkan Allah dalam setiap langkah riset mereka. Dengan begitu, sains akan membawa mereka kepada kesadaran yang semakin tinggi akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Inilah Islamic science, yaitu sains yang berdasar pada Tauhid.

Sumber: http://www.azquotes.com

Oleh: Arif Rahman Sadjuri
Penulis adalah alumni Program Magister Bioteknologi ITB yang sekarang berprofesi sebagai peneliti di salah satu perusahaan life science di Bandung.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.